WHAT'S NEW?
Loading...

Memimpikan Pemimpin

Pemimpin adalah panutan. Ia menempati posisi yang terhormat. Dimanapun ia berada. Dalam sebuah negara bahkan keluarga. Akan tetapi segala bentuk penghormatan itu bukan diartikan sebagai bentuk pembenaran terhadap segala sesuatu yang dilakukan sang pemimpin. Apakah itu perbuatan, ucapan ataupun kebijakan. Oleh karenanya tidak mudah menjadi pemimpin. Tapi yang jelas setiap diri kita memiliki potensi untuk menjadi pemimpin dalam kadar tertentu karena pada hakikatnya kita semua adalah pemimpin. Minimal memimpin diri sendiri.


Berbicara tentang pemimpin. Plato dengan sederhana mendefinisikan potensi kepemimpinan itu dengan mengilustrasikan seorang pemimpin dengan tukang tenun. Menurutnya, tugas seorang pemimpin sama seperti halnya seseorang yang cakap menenun untaian benang menjadi sebuah kain. Ia bertugas menenun atau menciptakan keselarasan yang harmonis diantara berbagai keahlian yang ada dalam sebuah komunitas atau masyarakat. Secara implisit, Plato seakan menunjukkan bahwa tak ada satupun yang diangap lebih utama dibandingkan dengan yang lain. “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu” (QS. 49:13). Begitulah Allah Swt menegaskan dan menjadi pemimpin yang adil adalah salah satu medium untuk meraih derajat mulia tersebut.

Potensi dan karakter pemimpin tidak muncul abrakadabra dengan begitu saja. Ia adalah hikmah dari rangkaian proses kehidupan. Namun ternyata bangsa ini menunjukkan sejarah bahwa mereka yang memiliki usia hidup lebih lama atau lebih tua, merekalah yang layak menjadi pemimpin. Apalagi ditambah dengan embel-embel gelar akademik dan label kyai. Maka fenomena pembenaran tersebut semakin semarak ditemukan. Apa saja yang keluar dari mulutnya senantiasa dianggap sebagai keputusan atau ketetapan. Mau tidak mau harus diakui bahwa, feodalisme warisan kompeni apakah itu sebagai suatu ideologi maupun budaya ternyata masih mengurat walaupun di dalam kurun waktu yang berbeda dan tempat tertentu memiliki nuansa yang berlainan.

Setidak-tidaknya ada dua faktor apakah dalam sebuah komunitas atau masyarakat, feodalsime apakah itu sebagai suatu ideologi maupun budaya masih merajalela. Yang pertama adalah tidak berkembangnya daya kritis di dalam anggota kamunitas atau masyarakat. Dalam Islam Pembenaran hanya diberikan kepada Rasulullah Saw. Namun bukan sesuatu yang haram pula jika para sahabat mempertanyakan pendapat Rasulullah. Misalnay ketika memilih tempat pada perang Badr. Para sahabat memiliki pendapat lain dan Rasulullah pun menerimanya. Ketika kita memiliki penilaian lain dengan argumentasi beserta data yang kuat dan akurat bukan berarti kita tidak taat.

Faktor yang kedua adalah matinya kreatifitas. Dengan tidak berkembangnya daya kritis maka semaput pula daya kretifitasnya. Teror pembangkang bergentayangan sehingga anggota komunitas (masyarakat) selalu diselimuti ketakutan untuk bertanya, menyampaikan ide-ide, dan gagasan. Karena semuanya itu sudah ditentukan dari ”atas”.

Ada sebuah kisah teladan, ketika Umar ra. selesai berpidato ketika pelantikannya sebagai khalifah. Seorang sahabat berdiri dan berkata, ”Ya amirul mukminin, jika engkau salah dalam menjalankan amanhmu maka aku akan meluruskanmu dengan pedang ini!” . Sahabat itu berkata sambil menghunuskan pedangnya. Lalu, apa reaksi Umr ra. ” Alhamdulillah, Allah Swt telah memberikan banyak orang shaleh di sekitar Umar”. Akhirnya saya berharap, semoga bangsa ini dikemudian hari memiliki pemimpin-pemimpin yang egaliter dan amanah seperti apa yang telah dicontohkan oleh para Rasul dan Sahabat. Aamiin.


0 komentar: