WHAT'S NEW?
Loading...

Mereka Yang (mungkin) Dirindukan

Bagi anda yang sering menggunakan jasa angkutan umum seperti kopaja, mikrolet atau yang lainnya. Pasti anda sering menjumpai satu atau dua orang pengamen yang melantunkan lagu-lagu yang sedang populer. Sebut saja semacam surgamu milik ungu, isyarat hati-nya Naff, lagu-lagu Letto yang semakin moncer dan masih banyak lagi. Mereka semua dengan beragam latar belakang dan motivasi, sejatinya adalah para pengais rezeki. Dengan kata lain mereka semua sedang mendayagunakan kemampuannya atau bekerja. Sama dengan kita semua


Namun yang menjadi pertanyaan. Apakah kehadiran mereka ditengah-tengah para penumpang yang berdesakan,bercampurnya aroma Boss Army dan keringat yang sudah tak menentu ditambah pula panas dan dahaga dapat memberikan rasa nyaman?. Jangan-jangan malah menambah nilai entropi dalam bus tersebut.

Bekerja adalah naluri alamiah setiap manusia. Terlepas apakah dia akan bernilai produktif atau tidak. Herbert Applebaum, seorang antropolog, menawarkan definisi bekerja: "Bekerja adalah suatu aktivitas produktif yang mengakibatkan perubahan fisik dan sosial pada lingkungan untuk memenuhi kebutuhan manusia." Nah, jika kehadiran mereka (para pengamen) tidak menambah nilai positif maka mereka semua bukanlah kaum pekerja sejati. Seperti banyak diulas oleh para motivator yang mengatakan bahwa para pekerja sejati adalah mereka yang mengeksplorasi segenap kemampuannya dan dengan itu dapat memberikan added value sehingga mereka berhak mendapatkan reward.

Dalam beberapa hadits, Nabi Muhammad Saw pernah bersabda:“Tidak ada makanan yang dikonsumsi oleh seseorang, yang lebih baik dari hasil jerih pekerjaan tangannya sendiri, sesungguhnya Nabi Dawud as selalu memakan dari hasil pekerjaan tangannya sendiri”. (Jami’ al-Ushul, XI/224, no. hadits: 8108). Dalam hadits lain, “Sungguh, demi Dzat yang menguasai diriku, seseorang yang menggunakan seutas tali, mencari kayu bakar dan mengikatkan ke punggungnya, (lalu menjulanya ke pasar) adalah lebih baik baginya daripada harus meminta-minta kepada orang lain, yang kadang diberi dan terkadang ditolak”. (Bukhari, no. hadits 1470).

Ada beberapa hal yang bisa dipahami dari kedua teks hadits ini. Di antaranya, bahwa kecukupan ekonomi menjadi nilai tambah sendiri dalam pandangan Nabi Saw. Pada prakteknya, dalam tataran sosial kecukupan ekonomi juga menjadi kekuatan posisi tawar tersendiri untuk bisa memperoleh akses terhadap sumber-sumber sosial, politik dan ekonomi yang lain. Mereka para pengamen ataupun para pekerja informal yang lain adalah kenyataan yang menunjukkan bahwa posisi tawar mereka sangat lemah karena tidak memiliki kecukupan diri terhadap kebutuhan ekonomi mereka. Dari ketidakcukupan ini, kemudian terbangunlah stereotipe yang lain terhadap mereka. Bahwa mereka hanya “menggangu” kenyamanan yang sebenarnya sudah tidak nyaman di dalam bus kota atau bahkan menambah terror tersendiri bagi para penumpang.

Untuk merubah stereotipe ini, adalah kewajiban pemerintah untuk memfasilitasi. Proyek padat karya dan dibukanya sanggar-sanggar seni sebagai wadah aktualisasi dan apresiasi seni mereka. Semoga kelak dikemudian hari, mereka para pengamen dalam ketiadaannya di bus kota, dinantikan kehadirannya oleh para penumpang untuk membunuh waktu dalam kemacetan Jakarta dengan lantunan lagu-lagu nan syahdu. Aamiin.

Gatot Subroto, ditengah kemacetan awal tahun


0 komentar: