<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219</id><updated>2011-10-16T13:20:37.843+07:00</updated><category term='CATATAN PINGGIR'/><category term='RENUNGAN'/><category term='PEMIKIRAN'/><category term='WAWASAN'/><title type='text'>Jambualas</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219.post-4661300467561782690</id><published>2008-10-10T11:40:00.001+07:00</published><updated>2008-10-10T13:07:16.937+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CATATAN PINGGIR'/><title type='text'>Sandiwara Apa Adanya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt; Jangan sungkan tertawa ketika menikmati tontonan ketoprak atau sandiwara. Tapi jangan terlalu serius memaknai setiap lakon adegannnya. Karena, tidak mudah untuk menukil arti dibalik kerlingan mata sang pemain utama. Gestur tubuh para &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cameo&lt;/span&gt; ataupun kalimat-kalimat langit sang penulis skenario.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; “Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah”. Lirik salah satu lagu rock yang top punya. Tapal-tapal sejatinya tak harus ada dalam sebuah sandiwara, antara pemain utama, sutradara hingga staf rumah tangga. Tapi nyatanya ada ketidakadilan. Siapa peduli !, dibalik kesuksesan sebuah perhelatan, hajat besar. Ada saham besar yang menentukan dari sebuah perjalanan dari mereka yang selama ini termarjinalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kemudian menjadi tontonan romantik bak virus yang menjangkit. Dari top eksekutif sampai ibu-ibu rumah tangga. Dibuat demam bak terserang Malaria. Hebat benar tapi kurang ajar !. Tunggu dulu, karena belum saatnya kau keluar. Muncul dipermukaan atau sibuk dikerubungi wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersandiwaralah, selama layar masih mengembang. Tidak ada batasan babak. Sandiwara versi kami adalah sandiwara tanpa tata krama. Semuanya dijamin ”halal”. Segala macam titipan lakon, isme-isme pasti akan dipentaskan. Tapi. Dibalik batu ada udang tentunya. Selama umpan sang udang lancar, batu akan tetap berdiri kekar. Karena sandiwara adalah politik. Dan politik, that’s all about money. Politk adalah komoditas. Mendongkrak popularitas. Berkawan karib. Menjual mimpi. Mencukur harapan. Dan menimbun investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkawanlah dengan aktor utama. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Automaticly&lt;/span&gt;, gengsi akan mendekati. Lembaran rupiah dapat beranak pinak. Tidak perlu dierami. Karena ia bisa datang sendiri. Ajaib !. Memang. Karena semua berbicara. Era terbuka. Omong kosong ideologi. Itu hanya akan mengkebiri. Bagi kami untuk memenuhi pundi-pundi. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patal Senayan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lailtul Qadr dalam penantian&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8209335490193108219-4661300467561782690?l=jambualas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/4661300467561782690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8209335490193108219&amp;postID=4661300467561782690' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/4661300467561782690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/4661300467561782690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/2008/10/sandiwara-apa-adanya.html' title='Sandiwara Apa Adanya'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219.post-3734560353797619877</id><published>2008-09-11T09:38:00.001+07:00</published><updated>2008-09-11T09:58:38.957+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CATATAN PINGGIR'/><title type='text'>PARTAI ORANG KAYA (POK)</title><content type='html'>Selepas shalat Maghrib di teras Musholla, saya sempat nimbrung dalam obrolan yang cukup menarik seputar permasalahan Pemilu 2009. Topik besar yang didiskusikan adalah mengapa partai politik sedemikian rupa bernafsu merekrut artis untuk dijadikan calon legislatif. Sang teman dengan enteng menanggapi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“jangankan artis, hal-hal yang masih bersifat klenik pun, demi sebuah kekuasaan, sebagian partai politik tidak sungkan untuk menjamahnya”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Teman yang lain menimpali, “tidak usah heran lah, kita kan dididik dengan penddikan modern untuk semua hal kecuali pola pikir, makanya walaupun pakar bejibun tapi pola pikirnya masih kampungan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artis dan hal-hal yang menyerempet ke hal-hal klenik menjelang pesta demokrasi oleh sebagian partai politik sering dijadikan “alat” untuk menggapai kemenangan. Dalam rapat akbar sebuah kampanye partai politik, berderet artis beken menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk menghadirinya. Bermula hanya sekedar figuran dalam pesta demokrasi, sekarang beberapa artis yang sudah ngetop bahkan yang sudah “sepi order” menjelma menjadi pemain utama, calon legislatif. Jika tanpa perhitungan yang akurat dan tepat. Pola rekrutmen instant tersebut akan membuat kualitas sebuah partai politk akan memudar . Seorang Legislator tidak cukup hanya dikenal oleh masyarakat tapi ia harus bisa mengejewantahkan kehendak rakyat. Beberapa artis yang sekarang sudah “terhormat” pun nyaris tak terdengar, apalagi untuk membela korban Lapindo yang “traffic’ kepentingannya sungguh luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jangankan hanya sekedar kader atau simpatisan, para pemimpin partai dan anggota dewan-nya pun kelihatan gagap bersikap untuk membela kepentingan rakyat&lt;/span&gt;”, ujar ujo (inisiator gerakan golput di kelurahan saya) memotong se-enaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ”hasrat kekuasaan”  telah berobar-kobar di tubuh partai. Dan bahayanya, hal ini akan mendorong untuk melakukan apa saja yang dia persepsi akan mampu merengkuh kekuasaan, karena ”hasrat kekuasaan” sudah menyala-nyala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Inilah gambaran calon wakil-wakil kita, ketika kampanye mereka menggoda dan meryau kita semua tapi setelah melenggang ke Senayan, mereka serempak terserang penyakit lupa, lupa dengan semua kecap jualannya&lt;/span&gt;”. Mas Sigit menimpali (mantan ”relawan” salah satu partai terbesar di kelurahan yang merasa dikecewakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;eh, ngomong-ngomong akang sudah ada yang ngelamar belom?&lt;/span&gt;”. tanya CR7, yang sekarang wara wiri menjajakan diri menjadi em-ci dalam setiap kegiatan RT, tersebar isu bahwa dia bersemangat melakukan itu karena punya ambisi untuk menjadi Ketua Pemuda  yang ke-7. Dan untuk itu, ia selalu menggunkan inisial CR7, yang memiliki arti  Cecep Rusmana untuk ketua Paguyuban Pemuda yang ke-7 jadi bukan karena nge-fans dengan bintang MU Christiano Ronaldo yang menggunakan kaos tim dengan nomer punggung 7 lho....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ga ada, tapi saya sempat ngelamar ke POK tapi di tolak karena ditakutkan nanti saya korupsi!&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“P&lt;span style="font-style:italic;"&gt;OK, partai apa-an tuh kang?, baru denger&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;POK itu Partai Orang Kaya, anggotanya mesti orang berduit alias kaya. Katanya sich mesti kaya dulu biar nanti kalo sudah jadi anggota dewan ga ngobyek proyek. Jadi khusyu aja memperjuangkan rakyat, gitu katanya....&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8209335490193108219-3734560353797619877?l=jambualas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/3734560353797619877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8209335490193108219&amp;postID=3734560353797619877' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/3734560353797619877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/3734560353797619877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/2008/09/partai-orang-kaya-pok.html' title='PARTAI ORANG KAYA (POK)'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219.post-8158454688541498428</id><published>2008-09-05T14:27:00.001+07:00</published><updated>2008-09-05T14:55:03.413+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CATATAN PINGGIR'/><title type='text'>Kabar Dari Sabah</title><content type='html'>Ada duka menyala-nyala di Sabah. Kecewa dan marah telah membuncah. Apa soal perkaranya saudara ?. Telah dibakarkah panji kebesaran negeri jiran oleh saudara tuanya ?. Atau masih tersisa perselisihan batas kedaulatan negara ?. Tidak, bukan. Lantas apa gerangan ? &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Ada empat ratus anak tenaga kerja indonesia di Sabah. Terbengkalai nasibnya oleh negara. Dipaksa terus &lt;span style="font-style:italic;"&gt;berpuasa&lt;/span&gt;. Karena gaji mamak perbulan tidak seberapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua tentu bukan maunya. Ingin mereka adalah layaknya bak anak anak tanggung kota. Pagi bersekolah. Bermain-main di saat senja. Menjelang tidur Bapak bercerita. Semoga. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8209335490193108219-8158454688541498428?l=jambualas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/8158454688541498428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8209335490193108219&amp;postID=8158454688541498428' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/8158454688541498428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/8158454688541498428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/2008/09/kabar-dari-sabah.html' title='Kabar Dari Sabah'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219.post-3862111255716387154</id><published>2008-09-01T09:26:00.002+07:00</published><updated>2008-09-01T09:33:57.779+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PEMIKIRAN'/><title type='text'>Artis oh artis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt; Kemerdekaan Indonesia ke-63 telah disambut gegap gempita oleh seluruh lapisan masyarakat. Merdeka yang berasal dari kata “Mahardika” (Sansekerta) yang memiliki makna ‘sakral’, ‘bijak’, atau terpelajar, kata tersebut dalam bahsa Jawa kuno sering dipakai untuk merujuk pada “orang terpelajar” atau “bikhu Buddha”, yakni seseorang yang memiliki status sosial istimewa (Steenbrink). Maka, dengan merdeka, orang-orang dari lapisan masyarakat termasuk artis di dalamnya, memiliki harapan sama, menuntut perlakuan sama bahkan mimpi yang sama. Menegakkan kembali wajah bangsa ini ditengah pergaulan internasional. Mungkin itulah semangat yang melandasi para artis yang berbondong-bondong nyaleg. Sebuah cita-cita yang mulia walaupun terkesan klise.&lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Untuk Pemilu 2009 nanti, beberapa partai politik sudah membidik kalangan artis atau selebritis menjadi calon anggota legislatif. Sebuah pertaruhan sekaligus tantangan dan pekerjaan berat bagi partai politik. Sebab pasca reformasi, keberadaan partai politik menjadi salah satu institusi yang penting karena diyakini sebagai instrumen yang strategis bagi perkembangan demokrasi Indonesia. Ditengah fenomena deparpolisasi dan berbagai reaksi keras terhadap anomali politisi (korupsi, pelecehan seksual), langkah partai politik mencalonkan para artis oleh para pengamat politik dianggap ibarat  menggali kubur sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat penerimaan publik terhadap artis yang tinggi tidak cukup untuk menciptakan iklim demokrasi yang baik di era keterbukaan sekarang ini. Partai politik yang akuntabel dan profesional dengan diisi oleh orang-orang yang berkualitaslah yang nantinya mampu mengagregasi kepentingan publik.  Pertanyaannya apakah mereka (artis) memiliki kemampuan untuk menjalankan fungsi wakil rakyat atau hanya sebagai pengumpul suara (vote getter).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artis dan Parpol&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perkara artis terjun sebagai anggota legislaif sebenarnya sudah dimulai sejak zaman orde baru. Tercatat nama-nama seperti Rhoma Irama (Utusan Golongan) periode 1992-2007, Rano Karno (Partai Gokar) periode 1997-1999. Untuk periode 1999-2004  Sophan Sophian dan Muhammad Guruh Irianto Sukarno Putra (PDI-P). Baru ketika periode 2004-2009, secara kuantitatif, artis yang berkantor di Senayan mengalami kenaikan walaupun secara kualitatif tidak lebih dari pendahulunya. Mereka tersebar di berbagai partai politik, Adjie Massaid, Angelina Sondakh, pelawak Qomar (Demokrat), Dede Yusuf (PAN), Deddy Soetomo, Marissa Haque (PDI-P).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai politik sejatinya bukan "mesin" penguasa sehingga kepentingan ekspansif partai tidak sekedar diarahkan untuk kepentingan pelanggengan kekuasaan. Secara normatif, setidaknya ada tiga fungsi utama partai, yaitu fungsi pendidikan politik, rekrutmen politik, dan fungsi kekuasaan politik (merebut dan mempertahankan). Intinya semua fungsi partai politik diarahkan dalam upaya merebut dan mempertahankan kekuasaan yang diperolehnya. Dengan menguasai lembaga-lembaga politik, partai politik (idealnya) dapat mewujudkan visi dan misiiya ke dalam kebijakan publik. Tentu saja di dalam visi dan misi partai terangkum tujuan untuk mensejahterakan rakyat. Namun gagasan ideal yang terangkum dalam berbagai fungsi partai politik tersebut, ternyata terkendala dengan kondisi internal partai yang belum baik. Dan itu jelas terlihat dalam bentuk kaderisasi yang tidak simultan. Rekrutmen instant artis sebagai caleg adalah buktinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artis dengan segala daya pesonanya adalah magnitude. Mereka oleh sebagian partai politik diyakini mampu menarik simpatik publik karena faktor ketenaran dan paras rupawan. Siapa yang tidak mengenal Wulan Guritno, tampang artis blesteran ini  sudah wara-wiri di televisi, apakah sebagai model iklan atau pun bintang Sinetron. Dalam politik, diakui bahwa  penampilan yang menawan dan mempesona ternyata mampu menggerakkan simpul-simpul keinginan sekaligus mematikan simpul-simpul nalar. Terpilihnya pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat tidak lepas dari faktor tersebut. Diketahui ternyata bahwa, salah satu penentu kemenangan pasangan muda tersebut adalah pemilih terbesar dari kalangan perempuan (ibu-ibu) yang nge-fans berat akan kegantengan “Si Macan”. Oleh kalangan ahli komunikasi, surplus modal yang dimiliki para artis tersebut akbiat dari mekanisme populisme media yang mengangkat tinggi sosok artis dari permukaan sehingga mampu menciptakan pendapat umum  sambil menekan di bawah permukaan kebenaran yang sebenarnya. Jadi, kita sepakat bahwa sosok seperti Wulan Guritno cantik dan mempesona tapi apakah kita sepakat dia mampu mengartikulasikan setiap kepentingan politik dan memperjuangkannya ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui atau tidak, fenomena pola rekrutmen politik pragmatis dengan menempatkan artis sebagai caleg bisa membuat kader yang sudah lama membesarkan partai akan merasa diabaikan. Konflik internal sudah pasti tidak dapat terelakkan. Kalau pun sebuah partai politik “terpaksa” menempatkan artis dalam daftar caleg, maka sudah sepatutnya partai politik tersebut membuat kriteria legislator yang memenuhi kualifikasi karena pada akhirnya akan berdampak terhadap nama baik partai politik  dan kualitas Dewan Perwakilan Rakyat. Akhirnya, partai politik sudah menjalankan bagaimana bentuk permainannya, seperti yang diungkapkan oleh Michel Foucault, bahwa, “permainan tanda menentukan tempat berlabuhnya kekuasaan”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8209335490193108219-3862111255716387154?l=jambualas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/3862111255716387154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8209335490193108219&amp;postID=3862111255716387154' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/3862111255716387154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/3862111255716387154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/2008/09/artis-oh-artis.html' title='Artis oh artis'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219.post-7357703389313704070</id><published>2008-07-28T14:11:00.001+07:00</published><updated>2008-07-28T14:13:15.188+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PEMIKIRAN'/><title type='text'>Globalisasi, Remaja dan Krisis Budaya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Gelombang globalisasi telah memaksa negara-negara berkembang untuk mengkapitalisasi aset-aset yang dimilikinya baik dalam bentuk sumber daya alam maupun khasanah kebudayaan yang ada. Timbul kekhawatiran yang menguat, ketika Indonesia yang menjadi bagian dari komunitas dunia harus tegopoh-gopoh menghadapi cepatnya laju perubahan dunia meskipun bangsa ini memiliki perbekalan yang cukup memadai. Tidak jarang, upaya yang dilakukan para nahkoda untuk mengendalikan perahu besar Indonesia dari riak gelombang globalisasi dilakukan dengan pendekatan bahwa segala sesuatu dipandang sebagai ”barang dagangan”  yang bisa dijual dan menghasilkan uang. Politik ”jual-jual-an” bak obat cespleng di jaman serba intant. Menjual BUMN, jual kehormatan atau bahkan jual-an nomor urut. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kekhawatiran itu semakin menjadi-jadi setelah selubung ”stabilitas” yang selama ini menutupi satu demi satu tersingkap. Selubung dalam bentuk kedigdayaan pertumbuhan ekonomi dan ketahanan pangan era Suharto runtuh seketika ketika terjadi resesi sehingga krisis melanda seluruh pelosok dunia. Adalah tahun 1999, tahun penuh hura-hara, krisis dalam berbagai bentuk terjadi dimana-mana. Dalam istilah Jawa, kurun watu saat itu adalah saat-saat yang disebut sebagai Kalabendu. Momentum politik yang dikenal kemudian sebagai era dimulainya reformasi hingga kini masih suram terlihat ”daya magis-nya”. Dari hari ke hari terasa layaknya memasuki labirin panjang yang tak bertepi. Semua serba gelap, tidak ada kepastian, kecuali ketidakpastiaan itu sendiri. Bagaimana kabar saudara kita di Sidoarjo sana ?. Atau saudara-saudara kita yang mengadu nasib di tanah seberang, sebagai penyumbang devisa terbesar, 2 milyar dollar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis ekonomi hingga politk telah menyeret semuanya termasuk krisis kebudayaan. Krisis kebudayaan sebenarnya telah diwanti-wanti oleh para pendiri negeri ini. Dimulai dengan politk etis-nya Belanda hingga globalisasi yang telah menyurutkan ukuran dunia sesungguhnya. Roland Robertson (sosiolog), pernah mengemukakan pendapatnya bahwa globalisasi sebagai sebuah konsep mengarah, baik kepada pemampatan dunia maupun intensifikasi kesadaran dunia.  Artinya bahwa globalisasi menunjukkan tidak sekedar hilangnya ”batas teritori” dengan semakin mesranya relasi antar bangsa, tujuan politik maupun ekonomi tapi juga menciptakan sebuah tawaran cara pandang baru bahwa dunia adalah tempat yang nyata dan otentik untuk ditinggali daripada sebagai tempat abstrak untuk hidup. Namun malangnya, tidak sedikit negara-negara yang telah merasa dekat dalam hubungannya dengan komunitas dunia baik kualitas dan kuantitas dilain sisi mereka mengalami keterasingan budaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Homogenisasi pasar dunia melalui globalisasi tanpa disadari telah mencerabut rasa kebanggaan dalam berbangsa dan bernegara. Ciri khas dan keutamaan yang dimiliki setiap bangsa tereliminasi dengan konfigurasi kehidupan global yang cenderung miopik. Lihatlah remaja-remaja kita, Hollywood di seberang sana seakan dekat di pelupuk mata. Itu bukan dikarenakan Hollywood pindah ke Ciledug, tapi pola dan gaya hidup remaja kita yang  copy-paste habis remaja-remaja Amerika. Amerika yang dianggap sebagai contoh bagaimana peradaban masayarakt modern menjelma walaupun individu dihargai sebatas apa dan berapa yang dimiliki. Popularitas, kekuasaan dan uang memiliki posisi yang absoult. Dan hal ini secara massif disebarluaskan ke seantero penjuru dunia melalui berbagai medium dengan pola ekspansi yang lembut. Tidak jarang nilai-nilai luhur suatu bangsa yang pada awalnya bertentangan dengan nilai-nilai modern yang hedonis dan materalistis, lama kelamaan akan terkompromikan dan akhirnya diterima sebagai sebuah budaya baru yang dianggap lebih mencerahkan. Karena memang, globalisasi seperti yang pernah diungkapkan oleh David Yafee, merupakan sebuah preskripsi yang meliputi liberlisasi pasar global dan pasar nasional dengan asumsi bahwa arus perdagangan bebas, modal dan informasi termasuk budaya baru akan menciptakan hasil yang terbaik  bagi pertumbuhan dan kemakmuran manusia. &lt;br /&gt;Peradaban Barat dan Amerika telah mentranformasikan suatu masyarakat mekanis yang didasarkan pada materi dan konsumerisme. Mimpi menjadi bintang popular dan gemerlap kemewahan merupakan mitos masyarakat konsumeris. Misalnya adalah ajang kontes idol, dalam waktu singkat telah menjadi magnet bagi remaja yang ingin terkenal dengan keringat minimal. Acara-acara sejenis sudah menular ke berberapa negara seperti India, Filipina, Malaysia, Singapura, Vietnam termasuk Indonesia dengan beragam variannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajang atau kontes idol-idol-an adalah budaya baru anak muda yang kemudian termasuk sebagai budaya massa. Kuntowijoyo dalam sebuah tulisannya mengemukakan bahwa ciri-ciri budaya massa sekurang-kurangnya meliputi; (1) Obyektif, artinya para remaja (kontestan) hanya berperan sebagai sasaran yang tidak memiliki peran dalam pembentukan suatu simbol budaya. Mereka tidak lebih sekedar objek industrialisasi dan komersialisasi (2) budaya massa cenderung mengalienasi penganutnya dari realitas hidup dan identitas hakiki dirinya sendiri (3) budaya massa seringkali diterima karena kemudahan, kesenangan, dan mitos-mitos yang dimilikinya. Sehingga, ia seringkali diterima tanpa adanya proses kritisasi dalam diri. &lt;br /&gt;Realitas kehidupan berbudaya remaja kita yang rentan terhadap invasi budaya luar sungguh tidak bisa diandalkan untuk menghadapi kehidupan yang sudah meng-global. Remaja-remaja kita sudah begitu dekat dengan budaya konsumtif sehingga tidak mengherankan budaya yang demikian mendorong perilaku korup. Fenomena ini harus ditangani segera dengan melibatkan berbagai pihak, yaitu dengan menginternalisasikan  karakter bangsa melalui pendidikan yang humanis agar banga ini survive di era global. Oleh karenanya, menurut Warsono dalam tulisannya “Globalisasi dan Perubahan Budaya” remaja-remaja kita harus segera meninggalkan paradigma berpikir diagonalistik menjadi berpikir alternatif. Karena dengan berpikir alternatif, kita melihat perbedaan itu bukan dari sudut pandang kalah-menang, tenar-tidak terkenal tetapi hanya sebagai pilihan-pilihan (alternatif). Dengan paradigma berpikir demikian, diharapkan remaja kita bisa terhindar dari silang sengkarut konflik pribadi yang tidak menutup kemungkinan malah bisa menjadi pemicu konflik sosial. &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8209335490193108219-7357703389313704070?l=jambualas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/7357703389313704070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8209335490193108219&amp;postID=7357703389313704070' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/7357703389313704070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/7357703389313704070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/2008/07/globalisasi-remaja-dan-krisis-budaya_28.html' title='Globalisasi, Remaja dan Krisis Budaya'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219.post-6192560256991978187</id><published>2008-07-28T14:06:00.000+07:00</published><updated>2008-07-28T14:10:54.800+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PEMIKIRAN'/><title type='text'>Menutup Celah Korupsi di KPU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Aura traumatis kasus korupsi Komisi Pemilihan Umum (KPU) 2004 ternyata masih mendera. Hal itu diakui Abdul Hafiz Anshary dalam acara pelantikan Wakil Sekjen KPU dan jajaran pejabat struktural eselon II (Kompas, 20/07/2007). Kekhawatiran sang ketua cukup beralasan, selain anggota KPU sekarang oleh sebagian kalangan dianggap kurang berpengalaman dan masih dipertanyakan integritasnya, faktor upaya penindakan pelaku korupsi oleh KPK yang akhir-akhir ini telah menyeret nama-nama beken membuat pos-pos strategis di KPU “kurang diminati”. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dulu, publik memiliki ekpektasi besar ketika KPU (termasuk KPUD Banten) di isi oleh para cendikiawan seperti Nazaruddin Syamsuddin Cs. Ekpektasi dalam ilmu Matematika diartikan sebagai suatu nilai harapan terhadap suatu peubah (kejadian) tertentu yang diperhitungkan berdasarkan semua kemungkinan (peluang) yang akan terjadi terhadap peubah tersebut. Jika para Cendikiawan itu sebagai peubah  yang memiliki peluang untuk melaksanakan jabatannya di KPU dengan bersih maka wajar jika nilai ekpektasi masyarakat terhadap para Cendikiawan tersebut tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini cukup beralasan karena memenag cendikiawan oleh Julien Benda dalam bukunya Pengkhianatan kaum cendekiawan (Alih bahasa oleh Winarsih P), dipandang sebagai golongan yang mendedikasikan hidupnya dalam pencarian kebenaran. Cendekiawan dipandang bukanlah orang yang mengejar kepentingan duniawi. Cendekiawan tidak tergoda oleh nikmatnya kekayaan dan manisnya kekuasaan. Justru sebaliknya, mereka mencari kebenaran di dalam kesederhanaan. Walaupun akhirnya seperti yang kita saksikan, para cendekiawan itu akhirnya berselingkuh dengan para pedagang (baca-pengusaha) yang oleh Julien Benda dimasukkan ke dalam golongan yang sebenarnya berada di bawah cendikiawan. Pemilu 2009 nanti adalah ajang pertaruhan nama KPU (Provinsi, Kab/Kota) sebagai penyelenggara apakah nanti Pemilu akan kembali diwarnai dengan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dua Lubang Itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kasus penyalahgunaan jabatan dan wewenang yang dilakukan oleh KPU (Provinsi, Kab/Kota), Djayus  dalam tulisannya, Korupsi Dalam Sistem Pemilu di Indonesia, mengidentifikasi setidak-tidaknya ada dua peluang terjadinya korupsi. Yaitu melalui proses administrasi dan pengadaan logistik/barang dan jasa. Dijelaskan oleh Djayus bahwa dalam konteks pendaftaran peserta pemilihan umum seperti DPR, DPD dan DPRD, maupun pemilihan Presiden dan Wakil, KPU (Provinsi, Kab/Kota) sebagaimana diatur dalam perundang-undangannya, KPU memiliki kewenangan untuk menolak atau menerima dan memverifikasi peserta pemilihan umum. Memperhatikan proses administrasi sebagaimana terdapat pada lembaga tersebut, sangatlah dimungkinkan adanya rangsangan peluang untuk meloloskan peserta pemilihan DPR, DPRD atau bahkan DPD yang proses pendaftarannya sudah mulai dilaksankan sejak 27 Juni 2008. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Djayus menjelaskan bahwa peluang korupsi dalam pendaftran dapat berupa suap atau sogok, uang kopi, uang stempel, uang pelancar untuk verifikasi pendukung calon DPD baik dalam bentuk uang tunai maupun benda. Dalam kesempatan seperti ini sang pejabat melakukan sesuatu dengan meminta langsung bahkan dapat memberi pengecualian dari peraturan yang berlaku, atau bahkan membuat peraturan yang menguntungkan bagi pemberi. Dan sudah barang tentu dengan kompensasi-kompensasi yang disepakati.  Hal ini sangat mungkin terjadi karena KPU yang mempunyai kewenangan membuat peraturan pelaksana dari peraturan tentang pemilihan umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu peluang yang kedua menurut Djayus adalah saat dilakukannya pengadaan barang dan jasa. Seperti yang terjadi pada kasus ketua dan anggota KPU pada Pemilu tahun 2004 yang menyeret Nazaruddin Cs atau di Banten sendiri yang melibatkan Mantan Ketua KPUD dan mantan Ketua Pengadaan Barang dan Jasa KPUD Banten yang telah terbukti menyelewengkan dana Pengadaan logistik Pilkada Banten 2006 yang merugikan negara sebesar Rp 984,4 juta. Walaupun dengan mekanisme prosedural sesuai dengan sistem tender, kerawanan korupsi dalam pengadaan barang dan jasa cukup besar. Bukan rahasia lagi bahwa pemenang tender bisa di set up, sehingga para peserta tender berusaha dengan berbagai cara untuk memenangkan tender. Bentuknya beragam, dapat berupa pemberian fee yang berupa uang tunai atau karena permintaan secara terus terang oleh pihak anggota KPU sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertaruhan Integritas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Korupsi sebenarnya terjadi karena bertemunya “permintaan” dan “persediaan” dan ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan. Jawad Rachami mengilustrasikan korupsi akan tetap menggejala ketika ”permintaan dan persediaan” selalu berbulan madu. Permintaan menurut Jawad Rachmi adalah mereka yang berada di posisi yang berpengaruh dan berwenang yang menyediakan manfaat dan atau akses bagi keuntungan pribadi, ”permintaan” ini mewakili kalangan pejabat. Sedangkan ”persediaan” adalah mereka-mereka yang mencari keuntungan dan atau akses dengan cara menyediakan intensif dalam bentuk uang atau barang, ”persediaan” ini mewakili kalangan swasta atau pihak yang memiliki kepentingan. Semakin kuat kekuasaan, maka semakin besar pula godaan dan peluang untuk korupsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya integritas para anggota KPU (Provinsi, Kab/Kota) dipertaruhkan ditengah birokrasi kita yang masih cenderung korup (corrupt culture). Harapan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemilihan yang jujur, adil dan bebas korupsi harus dijawab oleh para angota KPU (Provinsi, Kab/Kota) dengan menunjukkan profesionlaitas dan kejujuran. Walaupun masyarakat memiliki keterbatasan dalam mengawasi kinerja KPU sesungguhnya kelak ada pengadilan dimana penegakkan hukum menjadi sesuatu yang absolut.   “Hai kaum muslim, siapa saja di antara kalian yang melakukan pekerjaan untuk kami (menjadi pejabat/pegawai negara), kemudian ia menyembunyikan sesuatu terhadap kami walaupun sekecil jarum, berarti ia telah berbuat curang. Lalu, kecurangannya itu akan ia bawa pada hari kiamat nanti… . Siapa yang kami beri tugas hendaknya ia menyampaikan hasilnya, sedikit atau banyak. Apa yang diberikan kepadanya dari hasil itu hendaknya ia terima, dan apa yang tidak diberikan janganlah diambil.” (HR. Abu Dawud). Wallahu’alam. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8209335490193108219-6192560256991978187?l=jambualas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/6192560256991978187/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8209335490193108219&amp;postID=6192560256991978187' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/6192560256991978187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/6192560256991978187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/2008/07/menutup-celah-korupsi-di-kpu.html' title='Menutup Celah Korupsi di KPU'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219.post-4609020199684678100</id><published>2008-06-19T17:21:00.003+07:00</published><updated>2008-06-19T17:27:22.222+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CATATAN PINGGIR'/><title type='text'>Maafkan Aku, Istriku ...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;”Kalau lagi marah, kamu jangan sekali-kali mengambil keputusan !”&lt;/span&gt;. April tiga tahun yang lalu. Pesan itu disampaikan oleh hampir semua teman dan kerabat ketika saya secara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;de facto&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;de jure&lt;/span&gt; diterima sebagai mantu. Sekarang, sudah 1.095 hari bahkan lebih, saya hidup bersama istri tercinta.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ribut-ribut, sudah pasti terjadi. Karena konon, bahtera keluarga yang harmonis suasannya mesti dinamis. Itu adalah proses apa yang dinamakan mempertautkan dua hati yang berbeda. Menuju gerbang ”jodoh”. Marah, boleh. Ribut boleh. Guyon, boleh. Saling mengingatkan, sangat dianjurkan. Tapi semuanya jelas sesuai dengan aturan, dalam batas dan kadar tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan adalah ciri kehidupan. Dari remaja menjadi dewasa, muda menuju tua. Dulu manja sekarang menjadi bijaksana. Maka, ada fase-fase yang harus dilewati. Dan sejatinya perubahan tidak meninggalkan korban. Ada prosedur dan tata cara yang harus dipatuhi. Seperti kisah akhir masa kepemimpinan Sukarno, sejumlah jenderal menjadi korban pengkhianatan dalam merebut kepemimpinan. Begitu juga ketika Pak Harto digantikan Pak Habibi, ada korban dari unsur mahasiswa. Semangat perubahan jika dilandasi kebencian dan kemarahan akan melahirkan kesia-siaan. Besar pasak daripada tiang. Kebangkrutan dalam segala hal sudah menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup memang sulit. Tapi bisa dibuat sangat mudah. Dimulai dengan mengendurkan urat agar tidak cepat marah. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahhir Bulan, Banyak Tagihan,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8209335490193108219-4609020199684678100?l=jambualas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/4609020199684678100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8209335490193108219&amp;postID=4609020199684678100' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/4609020199684678100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/4609020199684678100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/2008/06/maafkan-aku-istriku.html' title='Maafkan Aku, Istriku ...'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219.post-3447032474707432765</id><published>2008-06-18T13:40:00.002+07:00</published><updated>2008-06-18T13:42:23.318+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CATATAN PINGGIR'/><title type='text'>Teguhkan Kepribadianmu !</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt; Selamat jalan anakku. Semoga di lain waktu dalam ruang yang berbeda, kita bisa kembali bertatap muka. Berdiskusi dan membicarakan tentang pantun dan pribahasa, lara saudara-saudaramu di Palestina sana, hingga tragikomedi politik bangsa sendiri. Kita harus “berpisah” untuk sementara waktu. Karena lonceng perpisahan akan segera bertalu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kehidupan memang selalu berselimut prasangka. Tidak ada yang tahu pasti kapan air turun kala kabut bosan mengepung angkasa. Namun, dengan ke-lima indera, makhluk paripurna yang bergerilya di lorong dunia seharusnya sudah bisa menangkap setiap gejala. Perubahan yang nampak oleh mata. Maupun bisik-bisik konspirasi global yang hegemonik. Jangan kira jika kau berjalan di tiap setapak, bebas walau hanya sekedar intaian. Jejak langkah bisa terendus. Dan menjadi bukti aduan untuk bisa dijebloskan dalam kubangan. Waspadalah!, banyak kerikil tersebar, tak sedikit bisa binatang melata hingga tajam taring sang penguasa rimba. Siap menerkam dan kau menjadi santapan. Asahlah selalu “indera ke-enam”-mu. Jangan kau terlalu berlama-lama menuruti keinginan unsur bumi. Sering-seringlah kau tengadahkan muka dan pandangan. Agar luasnya galaksi, bisa menyadarkan hikmah keterasingan di hamparan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbatasan dan kesempurnaan adalah sahabat yang selalu berkelindan. Sejak ari-ari pecah sampai bunga kamboja di pusara merekah. Dalam keterbatasan, bersiaplah jika jemarimu akan menjadi legam. Bulir keringat jangan sampai membuat hatimu berkarat. Karena kikir, tamak, dan hasad. Teteskanlah bening amalmu dalam setiap kesempatan. Karena ”tetesan demi tetesan akan menjadi sungai, dirham demi dirham akan menjadi harta, kertas demi kertas akan menjadi buku. Dan waktu demi waktu yang dilewati akan menjadi umur.” (Aidh al-Qarni). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempurnaan ada pelajaran. Sebagai khalifah-Nya di bumi, kita tak patut untuk membungkukkan badan. Kepeda mereka yang mengaku memiliki ”kekuasaan”. Bersikap manis tapi janganlah dipaksakan. Jauhkan sikap melankolik agar tak nampak gurat kepayahan. Sebagai pemilik 4,3 miliar barel cadangan minyak. Tapi nyaris habis dihisap oleh perampok dan tengkulak. Hey !. kamu adalah orang-orang pilihan. Bentangkan pandanganmu untuk menelisik dahan, ranting, dan rimbun dedaunan. Sebagai tempat persembunyian. Para pengerat hak-hak ummat. Lakukanlah perlawanan. Karena kamu tidak punya pilihan selain menegakkan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, kesederhanaan adalah sumbu kepercayaan. Oleh karenanya, jangan sekali-kali kau cerai-beraikan buhulnya. Akan ringkih pesonamu seandainya kau bermegah-megahan. Peristiwa uhud sudah cukup mengajarkan. Ketika busur dan anak panah ditanggalkan. Berlomba mengumpulkan harta dan perhiasan. Cinta dunia dan kelalaian ganjarannya adalah kekalahan. Kekalahan di alam fana dan di alam baka. Sungguh mulia apabila kau meneladani. Seorang ulama yang bernama Bisyir bin Harits al-Hafi. ”Dia (Bisyir bin Harits al-Hafi) termasuk orang yang mengungguli orang-orang seangkatannya dalam hal zuhud dan wara’, akalnya sangat jenius, memiliki bermacam-macam keutamaan, bagus jalan hidupnya, lurus jalannya, dan sangat mengendalikan diri.” Testimoni tulus seorang Al-Khathib al-Baghdadi. Dan bukankah Sang Rabbi ’izzati sudah mewanti-wanti, "Dijadikan indah pada pandangan wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”(QS. 3:14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik waktu tak mau menunggu anakku. Percepatlah lajumu. Ketertinggalan karena kesengajaan adalah musibah besar. Jangan kau terbenam dalam lumpur penyesalan. Jadikan istighfar sebagai obat penawar. ”Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. 24:31). Yaa bunayya, waththinu anfusakum !.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemancingan, 16 Rabiul Akhir 1429 H,&lt;br /&gt;Untuk buah hatiku, Faris dan Fatih&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8209335490193108219-3447032474707432765?l=jambualas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/3447032474707432765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8209335490193108219&amp;postID=3447032474707432765' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/3447032474707432765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/3447032474707432765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/2008/06/teguhkan-kepribadianmu.html' title='Teguhkan Kepribadianmu !'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219.post-6417343888586683490</id><published>2008-06-18T13:24:00.001+07:00</published><updated>2008-06-18T13:25:18.350+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CATATAN PINGGIR'/><title type='text'>Mencatat Sejarah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kehidupan adalah permainan. Itu dapat kita lihat pada kejadian dalam keseharian. Orang berlomba memperebutkan jabatan dalam hiruk pikuk Pilkada. Sebagian lagi berjuang mati-matian mempertahankannya. Ada yang menjadi pelaku tokoh utama, penonton bahkan ada yang mengomentari (termasuk saya) dalam setiap babak. Semuanya tentu saja terekam dengan baik di hadapan Allah Swt. Namun yang paling terpenting adalah apa yang kita pelajari dari semua peristiwa tersebut. &lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masih segar dalam ingatan kita. Pelantikan seorang bani Adam ketika menjadi pejabat. Masih terasa dukungan kuat yag membanggakan. Namun kini itu semua harus berakhir. Dalam perhitungan dunia itu semua sudah tamat. Game is over. Ia hanya tersisa sebagai bacaan dan pelajaraan generasi depan. Akan tetapi inilah yang paling penting. Akhir dari sejarah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihadapan Allah Swt sejarah tidak pernah berakhir. Ia justru akan dimulai. Sejarah sesungguhnya menyisakan sebuah pertanggungjawaban. Allah Swt menebus tunai ganjarannya. Inilah yang senantiasa kita khawatirkan. Akankah sejarah tersebut berbuah kebahagiaan. Ataukah penyesalan panjang yang tidak berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini setiap lembaran hari siap diisi sejarah. Kita melangkah membuka lembaran sendiri-sendiri. Kita melihat contoh, mengulang aktivitas, menyelesaikannya, kemudian membuka yang baru. Begitu seterusnya setiap hari. Jika yang kita lakukan hanyalah pengulangan, maka nilailah yang membuat berbeda. Lalu tersisa pertanyaan, bagaimana setiap perulangan sejarah kita menjamin satu keyakinan, kita lebih baik dari yang pernah ada. Best of the best. Tentunya di hadapan Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kitalah yang menentukan. Apakah sejarah yang kita miliki menjadi sumber kebaikan, membuahkan kebaikan, dan menjadi kesejukan generasi selanjutnya. Ataukah menjadi simbol kekalahan, hanyalah dikenang semata sebagai pecundang. Bukankah Allah Swt mengingatkan tipu daya kehidupan dunia. Bukankah Allah Swt menawarkan tawaran kemenangan. Tinggllah hati nurani yang menjadi penuntun. Sebagai apapun diri kita. Sekedar mengulangi sejarah, penentu sejarah ataukah sebagai pencatat sejarah. Yang pasti wariskanlah sejarah, semata hanya kebaikan yang dikenang dan bermanfaat.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8209335490193108219-6417343888586683490?l=jambualas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/6417343888586683490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8209335490193108219&amp;postID=6417343888586683490' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/6417343888586683490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/6417343888586683490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/2008/06/mencatat-sejarah.html' title='Mencatat Sejarah'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219.post-6393144219997261368</id><published>2008-06-18T13:20:00.001+07:00</published><updated>2008-06-18T13:23:11.175+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CATATAN PINGGIR'/><title type='text'>Memimpikan Pemimpin</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt; Pemimpin adalah panutan. Ia menempati posisi yang terhormat. Dimanapun ia berada. Dalam sebuah negara bahkan keluarga. Akan tetapi segala bentuk penghormatan itu bukan diartikan sebagai bentuk pembenaran terhadap segala sesuatu yang dilakukan sang pemimpin. Apakah itu perbuatan, ucapan ataupun kebijakan. Oleh karenanya tidak mudah menjadi pemimpin. Tapi yang jelas setiap diri kita memiliki potensi untuk menjadi pemimpin dalam kadar tertentu karena pada hakikatnya kita semua adalah pemimpin. Minimal memimpin diri sendiri.&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; Berbicara tentang pemimpin. Plato dengan sederhana mendefinisikan potensi kepemimpinan itu dengan mengilustrasikan seorang pemimpin dengan tukang tenun. Menurutnya, tugas seorang pemimpin sama seperti halnya seseorang yang cakap menenun untaian benang menjadi sebuah kain. Ia bertugas menenun atau menciptakan keselarasan yang harmonis diantara berbagai keahlian yang ada dalam sebuah komunitas atau masyarakat.  Secara implisit, Plato seakan menunjukkan bahwa tak ada satupun yang diangap lebih utama dibandingkan dengan yang lain. “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu” (QS. 49:13). Begitulah Allah Swt menegaskan dan menjadi pemimpin yang adil adalah salah satu medium untuk meraih derajat mulia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi dan karakter pemimpin tidak muncul abrakadabra dengan begitu saja. Ia adalah hikmah dari rangkaian proses kehidupan. Namun ternyata bangsa ini menunjukkan sejarah bahwa mereka yang memiliki usia hidup lebih lama atau lebih tua, merekalah yang layak menjadi pemimpin. Apalagi ditambah dengan embel-embel gelar akademik dan label kyai. Maka fenomena pembenaran tersebut semakin semarak ditemukan. Apa saja yang keluar dari mulutnya senantiasa dianggap sebagai keputusan atau ketetapan. Mau tidak mau harus diakui bahwa, feodalisme warisan kompeni apakah itu sebagai suatu ideologi maupun budaya ternyata masih mengurat walaupun di dalam kurun waktu yang berbeda dan tempat tertentu memiliki nuansa yang berlainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidak-tidaknya ada dua faktor apakah dalam sebuah komunitas atau masyarakat, feodalsime apakah itu sebagai suatu ideologi maupun budaya masih merajalela. Yang pertama adalah tidak berkembangnya daya kritis di dalam anggota kamunitas atau masyarakat. Dalam Islam Pembenaran hanya diberikan kepada Rasulullah Saw. Namun bukan sesuatu yang haram pula jika para sahabat mempertanyakan pendapat Rasulullah. Misalnay ketika memilih tempat pada perang Badr. Para sahabat memiliki pendapat lain dan Rasulullah pun menerimanya. Ketika kita memiliki penilaian lain dengan argumentasi beserta data yang kuat dan akurat bukan berarti kita tidak taat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor yang kedua adalah matinya kreatifitas. Dengan tidak berkembangnya daya kritis maka semaput pula daya kretifitasnya. Teror pembangkang bergentayangan sehingga anggota komunitas (masyarakat) selalu diselimuti ketakutan untuk bertanya, menyampaikan ide-ide, dan gagasan. Karena semuanya itu sudah ditentukan dari ”atas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kisah teladan, ketika Umar ra. selesai berpidato ketika pelantikannya sebagai khalifah. Seorang sahabat berdiri dan berkata, ”Ya amirul mukminin, jika engkau salah dalam menjalankan amanhmu maka aku akan meluruskanmu dengan pedang ini!” . Sahabat itu berkata sambil menghunuskan pedangnya. Lalu, apa reaksi Umr ra. ” Alhamdulillah, Allah Swt telah memberikan banyak orang shaleh di sekitar Umar”.  Akhirnya saya berharap, semoga bangsa ini dikemudian hari  memiliki pemimpin-pemimpin yang egaliter dan amanah seperti apa yang telah dicontohkan oleh para Rasul dan Sahabat. Aamiin.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8209335490193108219-6393144219997261368?l=jambualas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/6393144219997261368/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8209335490193108219&amp;postID=6393144219997261368' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/6393144219997261368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/6393144219997261368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/2008/06/memimpikan-pemimpin.html' title='Memimpikan Pemimpin'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219.post-7202674073658946131</id><published>2008-06-18T13:18:00.001+07:00</published><updated>2008-06-18T13:20:07.779+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CATATAN PINGGIR'/><title type='text'>Produk Lokal Citarasa Global</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;20 tahun yang silam, terbayang dalam benak saya bahwa Indonesia akan menjelma menjadi sebuah negara yang berdaya. Berdaya dalam hal. Politik, keamanan, ekonomi, pangan maupun budaya. Tentunya harapan yang tidak berlebihan karena memang Indonesia memenuhi syarat untuk menjadi negara yang berdaya bahkan negara adidaya. Salah satunya adalah potensi alam. Secara fisiografis, hampir sebagian besar pulau utama Indonesia memiliki gunung berapi. Kondisi ini memungkinkan beberapa bagian wilayah Indonesia memiliki tanah yang relatif kaya akan unsur hara. Sehingga tanah menjadi subur. Tidak berlebihan jika Koes Plus menuangkannya dalam salah satu lagunya, ”orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Yang pada akhirnya, dimasa pemerintahan Sang Jenderal besar, Indonesia berada pada era keemasan pangan. Tepat ketika saya duduk di kelas 2 SD. Sehingga FAO pun mengganjar Indonesia dengan penghargaan karena telah berhasil memenuhi kebutuhan pangan nasional (swasembada beras).&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun, tak lama setelah mendapatkan penghargaan oleh FAO, Indonesia kembali menjadi negara yang gemar mengimpor beras. Bebeda dengan Thailand dan Vietnam yang sekarang masuk dalam negara eksportir beras walaupun memiliki luas wilayah yang relatif kecil. Bahkan beberapa tahun terakhir negeri Paman Sam juga sudah meluai merengsek menguasai pasar beras internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, beras dan sumber pangan lainnya adalah sesuatu yang vital dan strategis karena merupakan kebutuhan dasar manusia. Akan tetapi kian kemari dunia pangan kita semakin terbelit berbagai persoalan. Berita terakhir yang masih anyar adalah tentang langkanya pasokan kedelai di pasaran. Kebutuhan kedelai domestik tahun 2007 mencapai angka 1,8 juta ton sementara produksi lokal hanya bisa menghasilkan 620 ribu ton. Sehingga untuk menutup kebutuhan 1,2 juta ton kita harus mengimpor.&lt;br /&gt;Inilah bentuk ketidakberdayaan bangsa kita dalam memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya berharap kelak dengan langkah politis pro rakyat yang di ambil oleh pemerintah dan para wakil rakyat yang terhormat dapat membuahkan sebuah politk pangan yang tangguh. Sehingga memang pangan adalah sebuah masalah yang serius untuk segera ditangani. Segera ditangani karena saya (mungkin anda juga) tidak ingin penganan seperti uli, ketan, popedau, singkong, ubi jalar, talas atau yang lainnya secara perlahan tapi pasti hilang dari bumi Nusantara diganti dengan aneka macam fast food produk waralaba kapitalis global. Donat, pizza, dan fried chicken. Dan juga jika Pemerintah dan kita semua tetap membiarkan pandangan bahwa pilihan makanan pokok menandakan status sosial. Seperti makan nasi sama dengan prestisius dan sagu hanya untuk orang miskin, bisa jadi di kemudian hari makanan pokok lokal akan menghilang dari peta makanan pokok nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempatan pancoran (sambil makan cireng)&lt;br /&gt;Jam 5 sore - 16 Februari 2008&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8209335490193108219-7202674073658946131?l=jambualas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/7202674073658946131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8209335490193108219&amp;postID=7202674073658946131' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/7202674073658946131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/7202674073658946131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/2008/06/produk-lokal-citarasa-global.html' title='Produk Lokal Citarasa Global'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219.post-3773895423482117243</id><published>2008-06-18T13:16:00.002+07:00</published><updated>2008-06-18T13:18:16.280+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CATATAN PINGGIR'/><title type='text'>Mereka Yang (mungkin) Dirindukan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Bagi anda yang sering menggunakan jasa angkutan umum seperti kopaja, mikrolet atau yang lainnya. Pasti anda sering menjumpai satu atau dua orang pengamen yang melantunkan lagu-lagu yang sedang populer. Sebut saja semacam surgamu milik ungu, isyarat hati-nya Naff, lagu-lagu Letto yang semakin moncer dan masih banyak lagi. Mereka semua dengan beragam latar belakang dan motivasi, sejatinya adalah para pengais rezeki. Dengan kata lain mereka semua sedang mendayagunakan kemampuannya atau bekerja. Sama dengan kita semua &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun yang menjadi pertanyaan. Apakah kehadiran mereka ditengah-tengah para penumpang yang berdesakan,bercampurnya aroma Boss Army dan keringat yang sudah tak menentu ditambah pula panas dan dahaga dapat memberikan rasa nyaman?. Jangan-jangan malah menambah nilai entropi dalam bus tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja adalah naluri alamiah setiap manusia. Terlepas apakah dia akan bernilai produktif atau tidak. Herbert Applebaum, seorang antropolog, menawarkan definisi bekerja: "Bekerja adalah suatu aktivitas produktif yang mengakibatkan perubahan fisik dan sosial pada lingkungan untuk memenuhi kebutuhan manusia." Nah, jika kehadiran mereka (para pengamen) tidak menambah nilai positif maka mereka semua bukanlah kaum pekerja sejati. Seperti banyak diulas oleh para motivator yang mengatakan bahwa para pekerja sejati adalah mereka yang mengeksplorasi segenap kemampuannya dan dengan itu dapat memberikan added value sehingga mereka berhak mendapatkan reward.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa hadits, Nabi Muhammad Saw pernah bersabda:“Tidak ada makanan yang dikonsumsi oleh seseorang, yang lebih baik dari hasil jerih pekerjaan tangannya sendiri, sesungguhnya Nabi Dawud as selalu memakan dari hasil pekerjaan tangannya sendiri”. (Jami’ al-Ushul, XI/224, no. hadits: 8108). Dalam hadits lain, “Sungguh, demi Dzat yang menguasai diriku, seseorang yang menggunakan seutas tali, mencari kayu bakar dan mengikatkan ke punggungnya, (lalu menjulanya ke pasar) adalah lebih baik baginya daripada harus meminta-minta kepada orang lain, yang kadang diberi dan terkadang ditolak”. (Bukhari, no. hadits 1470).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang bisa dipahami dari kedua teks hadits ini. Di antaranya, bahwa kecukupan ekonomi menjadi nilai tambah sendiri dalam pandangan Nabi Saw. Pada prakteknya, dalam tataran sosial kecukupan ekonomi juga menjadi kekuatan posisi tawar tersendiri untuk bisa memperoleh akses terhadap sumber-sumber sosial, politik dan ekonomi yang lain. Mereka para pengamen ataupun para pekerja informal yang lain adalah kenyataan yang menunjukkan bahwa posisi tawar mereka sangat lemah karena tidak memiliki kecukupan diri terhadap kebutuhan ekonomi mereka. Dari ketidakcukupan ini, kemudian terbangunlah stereotipe yang lain terhadap mereka. Bahwa mereka hanya “menggangu” kenyamanan yang sebenarnya sudah tidak nyaman di dalam bus kota atau bahkan menambah terror tersendiri bagi para penumpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merubah stereotipe ini, adalah kewajiban pemerintah untuk memfasilitasi. Proyek padat karya dan dibukanya sanggar-sanggar seni sebagai wadah aktualisasi dan apresiasi seni mereka. Semoga kelak dikemudian hari, mereka para pengamen dalam ketiadaannya di bus kota, dinantikan kehadirannya oleh para penumpang untuk membunuh waktu dalam kemacetan Jakarta dengan lantunan lagu-lagu nan syahdu. Aamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gatot Subroto, ditengah kemacetan awal tahun&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8209335490193108219-3773895423482117243?l=jambualas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/3773895423482117243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8209335490193108219&amp;postID=3773895423482117243' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/3773895423482117243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/3773895423482117243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/2008/06/mereka-yang-mungkin-dirindukan.html' title='Mereka Yang (mungkin) Dirindukan'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219.post-1045020814445217936</id><published>2008-06-18T13:13:00.001+07:00</published><updated>2008-06-18T13:15:53.708+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PEMIKIRAN'/><title type='text'>Kebijakan Peduli Lingkungan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt; Dalam Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup sebenarnya merupakan urusan wajib daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota (pasal 13-14). Bahkan ditegaskan, daerah wajib melestarikan lingkungan hidup dalam menyelenggarakan otonomi tersebut (pasal 22 huruf k). Namun fakta yang ada menunjukkan bahwa daerah seakan berlomba mengeksploitasi potensi sumber daya alam yang dimiliki. Demi mengejar target peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Republika Online tanggal 21 Februari 2007 memberitakan bahwa tercatat sebanyak 107 industri yang bertaraf internasional di Kota Cilegon, sebagian besar diantaranya masih mengolah limbah sisa produksi dengan cara dibakar dan dilepaskan ke udara bebas hingga mencemari lingkungan sekitar. Fakta sefanjutnya seperti diberitakan Koran Tempo terbitan hari Senin (7 Mei 2007). Hasil audit lingkungan yang dilakukan oleh konsultan lingkungan PT Waseco Tirta menyatakan bahwa sungai Ciujung, Cibanten, dan Cidurian dinyatakan tercemar limbah industri. Tidak tangung-tanggung. Ketiga sungai tersebut menampung 68.688,2 meter kubik limbah cair yang digelontorkan oleh 44 industri yang ada di Kabupaten Serang. Kemudian Kepala Kantor Kementrian Lingkungan Hidup Kabupaten Serang menyatakan bahwa kualitas air ditiga sungai itu sudah menurun. Fakta tersebut menunjukkan kepada kita bahwa, masyarakat Banten khususnya para pelaku ekonomi dan penentu kebijakan belum memiliki itikad kuat untuk bagaimana mengelola lingkungannya. Alam dan lingkungan masih dipandang sebagai sesuatu benda mati.&lt;br /&gt;Pengelolaan dan keberlanjutan SDA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banten sebenarnya provinsi yang nyaris sempurna. Berada pada jalur strategis perdagangan nasional dan internasional. Banten merupakan jalur penghubung antara Pulau Sumatera dengan Pulau Jawa. Wilayah perairan Banten juga merupakan akses menuju salah satu jalur perdagangan internasional tersibuk di dunia, Selat Malaka. Banten menghasilkan aneka bahan galian yang bernilai ekonomis cukup tinggi. Beberapa tempat di kawasan ini seperti Cikotok, Cibaliung, Bayah (Bayah Dome}. Di bagian Selatan Banten ini juga berpotensi menghasilkan beberapa jenis mineral industri seperti, zeolit, bentonit, feldspar, pasir kuarsa dan batugamping. Di kecamatan Bayah dan Panggarangan terdapat batubara berkualitas dengan nilai kalori sekitar 6500 - 7000 kal/gr. dan batubara muda terdapat di kecamatam Bojongmanik dengan nilai kalori antara 4000 - 5000 kal/gr. Sedangkan bahan galian lainnya yang dapat dikembangkan di bagian ini adalah batu mulia dari jenis opal (kalimaya) dan fosil kayu terkersikkan yang dikenal sebagai batu sempur yang keberadaannya sangat spesifik oleh karena termasuk sangat langka di dunia. Potensi lainnya yang mempunyai prospek untuk dikembangkan diantaranya adalah Panas Bumi, dimana dibeberapa tempat terindikasi dengan adanya hotspring. Semuanya itu boleh dipandang memang diperuntukan untuk terselenggaranya kehidupan manusia. Bila kita kemudian akan memanfaatkannya, hendaklah selalu memegang teguh kaidah konservasi, demi terjaganya kelangsungan siklus kehidupan. Oleh karenanya, para pelaku ekonomi dan pemerintah daerah seharusnya memperhitungkan dengan sungguh-sungguh ketika akan menggali suniber daya alam, khususnya yang tidak terbarukan (tambang minyak, batu, kapur, mineral, emas).&lt;br /&gt;Menurut Herman Daly, ada tiga kriteria dasar bagi keberlanjutan sumber daya alam dan keberlanjutan ekologi (lingkungan) yaitu: (1) untuk sumber daya alam terbarukan, laju pemanfaatannya tidak boleh melebihi laju regenerasinya; (2) laju produksi limbah dari kegiatan pembangunan tidak boleh melebihi kemampuan asimilasi dari lingkungan; dan (3) untuk sumber daya alam tidak terbarukan, laju deplesi sumber daya harus mempertimbangkan pengembangan sumber daya substitusi bagi sumber daya tersebut. Memang, ketiga kriteria tersebut bersifat normatif. Namun dalam konteks pembangunan berkelanjutan khususnya di Provinsi Banten, hal tersebut menjadi hal penting yang diharapkan menjadi bingkai bagi setiap pelaku ekonomi dan pengambil kebijakan. Apabila hal ini dapat dilakukan maka sebuah prestasi besar bagi Provinsi Banten dalam bidang lingkungan karena kebijakan pembangunan daerah telah menggunakan pendekatan daya dukung sebagai perangkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kesejahteraan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Khaled Abou El Fadl dalam Islam and Chalenge of Democracy, menerangkan bahwa para ahli hukum Islam memandang bahwa inti tujuan umum hukum (syariat) adalah keadilan dan kesejahteraan. Para ahli hukum Islam membagi kesejahteraan manusia dalam tiga kategori: (1) kesejahteraan dharuriyyat (primer); (2) kesejahteraan hajiyyat (sekunder); dan (3) kesejahteraan tahsiniyyat (tersier). Maka, hukum dan kebijaksanaan pemerintah harus memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut, mengikuti urutan prioritas, dari primer, lalu sekunder, dan tertier. Kesejahteraan primer dibagi menjadi lima kepentingan utama, yaitu agama, kehidupan, akal, keturunan atau kehormatan, dan harta benda. Dalam konteks menjaga dan melestarikan lingkungan hidup dengan sebaik-baiknya, sesungguhnya itu semua adalah dalam rangka menegakkan kesejahteraan manusia itu sendiri. Sebab, lingkungan hidup merupakan "rumah" kita yang sangat terkait dengan kehidupan dan harta benda. Bila kondisi "rumah" yang kita tempati rusak dan secara tidak langsung proses kehidupan dan harta benda kita juga menjadi terganggu. Allah Swt menegaskan dalam salah satu firman-Nya bahwa bencana alam dan krisis lingkungan hidup adalah akibat dari ulah manusia: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalanyang benar)" (QS. 30:41). Hal itu terjadi karena selama ini manusia menganggap alam sebagai tempat yang diperuntukkan bagi mereka sebagai penguasa bumi. Dengan paradigma itu, maka dia akan dengan seenaknya memanfaatkan alam tanpa mengenal batas dan tanpa usaha yang serius untuk melakukan peremajaan lingkungan&lt;br /&gt;Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah lingkungan pada prinsipnya terletak pada sebuah fakta. Apakah manusia sebagai pengelola alam ini mampu melalui sebuah proses pembelajaran. Manusia mungkin tidak mampu mencegah kerusakan lingkungan, namun melalui proses pembelajaran, manusia dapat mengurangi kerusakan dan mulai melakukan perbaikan. Proses pembelajaran dalam kaitannya dengan dunia nyata dengan sistem alam dan sistem manusia sebagai dua hal yang tidak dapat terlepas dari sistem manusia dan institusi sosial yang menjadi pondasi cara berpikir manusia terhadap alam dan lingkungan (Kenneth E. Boulding). Sebagai penutup, penulis menaruh harapan besar kepada Gubernur Atut  agar sebisa mungkin  menempatkan kepentingan masyarakat tidak hanya sebagai obyek dan subyek ekonomi namun juga sebagai obyek dan subyek lingkungan dan sumber daya alam sehingga pembangunan ekonomi tidak selalu berlawanan dengan nilai-nilai keadilan, kesederajatan, dan yang pasti tidak mencederai kepentingan kelestarian ekosistem dan lingkungan.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8209335490193108219-1045020814445217936?l=jambualas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/1045020814445217936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8209335490193108219&amp;postID=1045020814445217936' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/1045020814445217936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/1045020814445217936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/2008/06/kebijakan-peduli-lingkungan.html' title='Kebijakan Peduli Lingkungan'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219.post-6853933940946711857</id><published>2008-06-18T13:01:00.002+07:00</published><updated>2008-06-18T13:13:00.867+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PEMIKIRAN'/><title type='text'>AMBRUKNYA SEKOLAH KAMI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ketika sekolah lain berbenah mempercantik diri menyambut gegap gempitanya tahun ajaran baru. Dinding dipoles dengan warna yang lebih menarik, taman sekolah ditata seapik mungkin dan lain sebagainya. Lain halnya dengan SDN Bendungan Pamarayan. Salah satu sekolah plat merah ini harus menerima kondisi yang mengenaskan. Seperti yang diberitakan oleh Radar Banten Online hari selasa tanggal 31 Juli 2007. Bangunan yang terdiri dari enam lokal tersebut, praktis nyaris tidak menunjukkan sebagai bangunan sekolah. Atap sekolah terbuat dari seng yang sudah tidak sempurna lagi. Lantai yang tidak berubin dan dinding hanya terbuat dari anyaman bambu yang sudah keropos. Dari gambaran singkat tersebut, sudah dipastikan bahwa proses kegiatan belajar mengajar di SDN Bendungan Pamarayan sangat tidak efektif alias tidak layak. Melihat potret pendidikan kecamatan Pamarayan ini rasanya kita tidak bisa menuntut banyak akan lahirnya calon pemimpin daerah yang mumpuni. &lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pentingnya Pendidikan&lt;br /&gt;Kita semua sepakat bahwa pendidikan adalah sesuatu hal yang tidak bisa di tawar-tawar lagi keberadaanya dalam upaya memperbaiki martabat bangsa. Dalam pembukaan UUD 1945 dijelaskan bahwa ”Pemerintah   melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah  darah  Indonesia  dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa”. Dan Pasal 31 ayat (1) Amandemen UUD 1945 secara tegas mengamanatkan, "Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan", dan Ayat (2) menyatakan, "Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya". Hal ini dikukuhkan lagi dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang disahkan DPR 11 Juni 2003 dan ditandatangani Presiden 8 Juli 2003. Pada Pasal 5 ayat (1) disebutkan, "setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu". Sedangkan pada Pasal 6 Ayat (1) ditegaskan, "setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas sekali bahwa pembangunan dibidang pendidikan harus menjadi prioritas utama untuk mensejajarkan kita semua dalam pergaulan global. Perubahan, kemajuan, dan peradaban hanya bisa dicapai melalui pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan harus dijadikan landasan dan paradigma utama dalam mempercepat pembangunan. Maka, dalam pengembangan kebijakan bidang pendidikan, para penentu kebijakan tidak bisa melakukannya dengan pasif (menunggu laporan), statis dan sebagai rutinitas belaka, yang tidak memiliki orientasi jelas. Tetapi, pembangunan pendidikan harus dilakukan secara dinamis, konstruktif dan dilandasi semangat reformis, kreatif, inovatif dengan wawasan jauh ke depan. Terkait dengan kasus ambruknya SDN Bendungan Pamarayan dan beberapa SD yang akan menyusul nanti (mudah-mudahan tidak ada lagi). Kita menyangsikan peran dan komitmen pemerintah daerah. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah selama ini dinas pendidikan Serang tidak memiliki cukup informasi tentang kondisi sekolah-sekolah yang memiliki nasib seperti SDN Bendungan Pamarayan. Dan kalaupun mempunyai data lengkap tentang kondisi fisik dan lain sebagainya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menindaklanjuti hal-hal tersebut. Apakah memang sudah menjadi budaya, bahwa kesadaran akan tumbuh setelah jatuh korban?. Kalau memang demikian, lantas berapa korban lagi yang akan menjadi ”tumbal” sebagai penggugah kesadaran kita ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data pada tahun 2004 menunjukkan  ada 5.226 SD/MI, terdiri atas 4.322 SD negeri dan 904 MI negeri atau 34.447 (27.021 ruang SD) dan 7.426 MI. Dari jumlah itu, ada 7.185 ruang rusak ringan (26,59 persen) dan 6.445 ruang rusak berat (23,85 persen). Jadi, total kerusakan baik ringan dan berat mencapai 15.175 ruang atau 56,16 persen. Memang, pembangunan pendidikan tak lepas dari kekuatan ekonomi suatu daerah. Akan tetapi, kejadian ambruknya bangunan sekolah tidak terlepas dari perangkat birokrasi pendidikan mulai dari yang terendah sampai kepada orang nomer satu di suatu daerah. Semuanya punya wewenang sesuai kapasitsanya untuk menentukan kebijakan agar tidak ada lagi kejadian serupa. Dinas pendidikan selaku institusi yang berwenang dalam masalah ini seharusnya bisa memetakan kondisi sekolah di kabupaten Serang. Pemetaan sekolah yang kondisi fisiknya masih layak atau sudah “emergency”  nantinya bisa dijadikan acuan dalam menentukan prioritas alokasi bantuan dana. Sementara ini, kebijakan perbaikan bangunan sekolah masih bersifat sporadis dan tambal sulam. Pembangunan atau perbaikan baru akan dilakukan setelah sekolah tidak bisa lagi digunakan alias rata dengan tanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peran Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dunia pendidikan juga mendapatkan “berkah” reformasi. Hal ini terjadi dalam  pengelolaan pendidikan. Pengelolaan pendidikan tidak hanya menjadi dominasi penuh pemerintah pusat. Pemerintah daerah juga memiliki peranannya dalam rangka otonomi dan desentralisasi. Kehadiran UU No. 22/1999 tentang Otonomi Daerah, yang disempurnakan dengan UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah telah merubah arah kebijakan pemerintahan dari sistem sentralistik menjadi desentralistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sektor pendidikan termasuk bagian dari sektor pembangunan yang didesentralisasikan. Pasal 13 Ayat (1) huruf f UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah menegaskan, ”Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi: penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial.” Lalu dalam Pasal 14 Ayat (1) huruf f menjelaskan, ”Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi: penyelenggaraan pendidikan.” Disinilah pemerintah daerah dituntut lebih optimal dan serius lagi dalam menjalankan pembangunan di sektor pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai alas pijakan, Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, ada beberapa tanggung jawab yang harus dimplementasikan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah terkait dengan kebijakan pendidikan, salah satunya adalah : Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi (Pasal 11 Ayat (1)). Menurut penulis, sekurang-kurangnya ada tiga syarat yang harus dipenuhi setiap sekolah agar pendidikan bisa dikategorikan bermutu. Pertama, ruang belajar yang kondusif dan menjamin terselenggaranya kegiatan belajar mengajar. Satu kelas maksimum diisi 25 sampai 30 orang, sirkulasi udara baik, dan perlengkapan pendukung (kursi, meja, papan tulis, dll) tersedia. Kedua, guru yang handal. Harus menguasai bidangnya masing-masing dan ditingkatkan kemampuannya melalui pemberian pelatihan rutin. Ketiga, kurikulum yang sistematis. Dalam kasus ambruknya SDN Bendungan Pamarayan, pemerintah daerah dalam hal ini dinas pendidikan Serang sudah mengabaikan tanggung jawab sebagaimana tertuang pada Pasal 11 ayat (1) UU Sisdiknas tersebut. Pemerintah daerah lalai dalam menjalankan amanahnya yaitu terselenggaranya pendidikan yang bermutu dalam hal ini tidak mampu menyediakan bangunan sekolah yang memadai. Masih menurut Radar Banten Online, disebutkan bahwa sejak pertama kali dibangun yaitu pada tahun 1982. SDN Bendungan Pamarayan belum pernah mendapatkan ”jatah” rehabilitasi gedung. Kenyataan ini sesungguhnya menunjukkan kepada kita semua bahwa ada indikasi tata kelola pemerintahan yang tidak jelas. Sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan, bagaimana sistem distribusi anggaran daerah selama ini ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menagih Komitmen&lt;br /&gt;Pemerintah telah menetapkan Renstra pendidikan tahun 2005 – 2009 dengan tiga sasaran pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai, yaitu meningkatnya perluasan dan pemerataan pendidikan, meningkatnya mutu dan relevansi pendidikan; dan meningkatnya tata kepemerintahan (governance), akuntabilitas, dan pencitraan publik. Sekarang, saatnya rakyat menagih komitmen pemerintah pusat dan daerah terhadap pendidikan. Belajar dari realtias dunia pendidikan di Serang, kita dapat menelisik indikator determinan; bukan persoalan keterbatasan anggaran dana daerah, pemerintah daerah kabupaten Serang bisa belajar dari Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA) Sumatera Selatan, Kabupaten Kutai Kertanegara- Kalimantan Timur dan Kabupaten Jembrana, Bali yang berhasil mengelola penidikan bahkan ketiga kabupaten itu mampu menyelenggarakan wajib belajar sembilan tahun. Bahkan untuk untuk Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA)menerapkan wajib belajar 12 tahun. Sebenarnya yang diharapkan masyarakat Serang kepada para penyelenggara pemerintah daerah dalam mengurusi dunia pendidikan adalah pelaksanaan tata kelola pemerintahan (governance) yang peduli rakyat, adil dan transparans, sehingga hak-hak dasar rakyat berupa jaminan pendidikan lebih diutamakan. Di samping itu diperlukan juga kebijakan pendidikan yang tidak saja ditujukan untuk mengembangkan aspek fisik, intelektual, tetapi juga mengembangkan karakter siswa. Dengan demikian pendidikan menyiapkan siswa untuk memiliki kemampuan akademik, dapat beradaptasi dengan lingkungan yang cepat berubah, kreatif dalam mencari solusi masalah, dan bisa diandalkan untuk menjadi pemimpin daerah yang berkualitas. Semoga&lt;br /&gt; &lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8209335490193108219-6853933940946711857?l=jambualas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/6853933940946711857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8209335490193108219&amp;postID=6853933940946711857' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/6853933940946711857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/6853933940946711857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/2008/06/ambruknya-sekolah-kami.html' title='AMBRUKNYA SEKOLAH KAMI'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219.post-4665333010377617800</id><published>2008-06-18T12:57:00.003+07:00</published><updated>2008-06-18T13:00:53.312+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RENUNGAN'/><title type='text'>Karena Shubuh Itu Sudah Dekat!.</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt; “sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; &lt;br /&gt;bukankah  subuh itu sudah dekat?." &lt;br /&gt;(QS. 11:81)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; Ada keistimewaan tersendiri yang terdapat pada shalat shubuh. Dalam beberapa riwayat, banyak sekali diterangkan keutamaan-keutamaannya. Bahkan dalam sebuah hadisnya, Rasulullah SAW menyebutkan bila umat Islam mengetahui bagaimana istimewanya shalat shubuh, maka mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak. “Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat al ‘Atamah (‘Isya’) dan Shubuh, niscaya mereka mendatangi keduanya walaupun dengan merangkak.” (HR. Asy Syaikhan dari Abu Hurairah). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun, pada kenyataannya sering kita jumpai. Tidak sedikit masjid kosong ketika shalat shubuh. Berbeda sekali dengan waktu-waktu lainnya apalagi jika dibandingkan dengan shalat Jumat. Dan celakanya, realitas inilah yang diinginkan oleh kaum Yahudi dan sekutu-sekutunya. Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang imam mesji di New York, beliau pernah menyampaikan ceramahnya tentang percakapan dua orang Rabbi Yahudi dalam suatu pertemuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Rabbi pertama berkata; wahai saudaraku, kita semua harus waspada dan terus berkonsolidasi terhadap antusias kaum muslim mengikuti shalat Jumat. Bisa jadi, itu sarana untuk mereka untuk menyatukan gerakan perlawanan terhadap kaum Yahudi. Mendengar pernyataan sekaligus kekhawatiran tersebut si Rabbi kedua hanya tersenyum. ”Tidak usah khawatir dan takut saudaraku. Shalat Jumat yang dihadiri berjubelnya kaum muslim itu jangan dijadikan tolak ukur persatuan apalagi ancaman perlawanan. Meskipun mereka banyak, berkumpul tapi sebenarnya mereka rapuh dan tercerai berai.”&lt;br /&gt;Selanjutnya, dengan penasaran Rabbi pertama bertanya, ”lantas, apa yang menjadi tolak ukur kaum muslimin mulai bersatu berhimpun dalam suatu garis perjuangan dan tanda-tanda mereka bersiap menghancurkan kita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbi kedua menjawab dengan nada tegas dan seirus, ”Shalat Jumat memang bukan tolak ukur kekuatan mereka. Satu hal yang harus terus kita waspadai, satu-satunya yang harus patut kita cemaskan adalah jika mereka, orang-orang Islam itu sudah mennjalankan shalat Shubuh berjamaah di mesjid dengan jumlah sama banykanya dengan shalat Jumat. Jika shalat shubuh mereka sudah memenuhi mesjid-mesjid dan itu terjadi hampir di seluruh belahan dunia, maka itulah tanda-tanda akan segera hancurnya kaum Yahudi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbi pertama menimpali. ”Jika demikian saudaraku, usahakan dengan cara apapun, dengan menggerakkan semua elemen kita buat mereka tetap terlelap dalam tidurnya, kita tutup telinganya agar tidak mendengar panggilan azan sehingga mereka tidak bisa mengetahui kekuatan mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kisah tersebut dapat kita ketahui bahwa, ternyata musuh-musuh Islam dalam setiap kesempatan akan menggunakan segala daya upaynya untuk melemahkan bahkan meluluhlantahkan sendi-sendi kekuatan kaum muslim. Sementara itu kesadaran kita untuk terus memperbaiki diri dengan menjalankan Al-Quran dan Sunnah kian hari kian terkikis oleh gelombang globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ketahuilah bahwa ketika kita semua masih bermalas-malasan di waktu shubuh. Lebih memilih melanjutkan dengkuran dan menarik kembali selimut diwaktu yang sama para musuh-musuh Islam, kaum Yahudi dan sekutunya sedang mentertawakan kita semua. Mereka senang bukan kepayang karena kita masih mengabaikan kekuatannya sendiri. &lt;br /&gt;Semoga kita semua diringankan langkah kakinya untuk menuju rumah Allah, ber-azzam untuk senantiasa menegakkan kalimatullah. Mari saudaraku, kita bangun dan bersegera menuju masjid. Mulai shubuh ini karena shubuh itu sudah dekat!. &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8209335490193108219-4665333010377617800?l=jambualas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/4665333010377617800/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8209335490193108219&amp;postID=4665333010377617800' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/4665333010377617800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/4665333010377617800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/2008/06/karena-shubuh-itu-sudah-dekat.html' title='Karena Shubuh Itu Sudah Dekat!.'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219.post-3888880123516454495</id><published>2008-06-18T12:54:00.001+07:00</published><updated>2008-06-18T12:57:17.245+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWASAN'/><title type='text'>Kaum Muda; Dari Masa ke Masa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt; Pemuda adalah harapan. Melalui semangat dan idealismenya, alternatif-alternatif perubahan tersemaikan. Peran perubahan itulah yang menjadikan pemuda sebagai icon di berbagai belahan dunia. &lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt; Sejarah mencatat misalnya bagaimana para mahasiswa Hongaria meluapkan kegelisahannya terhadap kenyataan negaranya yang telah menjadi boneka bagi Uni Sovyet. Pada tanggal 22 Oktober 1956, kegelisahan itu dirumuskan dalam sebuah manifesto politik mahasiswa yang berjumlah 14 butir. Keesokan harinya disusul dengan digelarnya demonstrasi akbar di lapangan Yosef Bem. Ternyata dukungan masyarakat amat tinggi terhadap manifesto tersebut. Walaupun akhirnya revolusi damai itu berubah menjadi revolusi berdarah, mereka dibanatai oleh 15.000 polisi rahasia AVH yang didukung oleh tentara Uni Sovyet. Demikian juga revolusi Aljazair Tahun 1954. Menyikapi penjajahan Perancis yang kian memuncak, mahasiswa Aljazair mengorganisasikan diri kedalam dua bentuk. Yaitu Organisasi Militer yang bernama Tentara Pembebasan Nasional dan Organisasi Politik yang bernama Front Pembebasan Nasional. Melalui dua bentuk organisasi itu mahasiswa Aljazair berhasil memperjuangkan kemerdekaan negerinya walau banyak diantara mereka yang menjadi korban dengan siksaan yang keji. Misalnya, Balkacem Zeddour yang dimasukkan kedalam karung dengan pemberat batu, ditenggelamkan ke laut hingga meninggal. Tapi pengorbanan mereka menjadi penyemangat bangsa Aljazair hingga akhirnya merdeka pada 5 Juli 1962.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal sama terjadi di Indonesia. Pada 28 Oktober, 79 tahun silam di Jakarta berkumpul berbagai kelompok anak muda yang datang dari berbagai pelosok Indonesia: Maluku, Sulawesi, Jakarta, Sunda, Sumatra, dan lain-lain. Konsolidasi nasional yang mereka lakukan dalam bentuk Sumpah Pemuda 1928 merupakan cita-cita bersama para pemuda Indonesia untuk mengokohkan nasionalisme dan membebaskan bangsanya dari penjajahan. Harmonisasi antara militansi, kemampuan berorganisasi, sensitivitas global telah mendorong mereka untuk selanjutnya meletakkan pijakan dalam pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metamorfosa gerakan&lt;br /&gt;Dalam perjalanan sejarah Indonesia, periodesiasi gerakan kaum muda dapat dibagi dalam beberapa angkatan yaitu; angkatan 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, 1980-an, hingga 1990-an. Angkatan 1908 dan 1928 adalah wujud gerakan intelektual muda yang mampu menghidupkan iklim politik waktu itu dengan membangun nasionalisme melalui pikiran dan cita-cita yang digerakkan dalam organisasi pemuda. Secara ideologis, mereka adalah golongan yang kritis adaptif serta sanggup melahirkan ide-ide baru yang dibutuhkan masyarakatnya. Sementara secara kultural, mereka adalah produk sistem nilai yang mengalami proses pembentukan kesadaran dan pematangan identitas dirinya sebagai aktor penting perubahan. Sehingga para kaum tua pun merespon gerakan mereka dengan baik. Sebagai kaum intelektual muda yang berada di tengah masyarakat, dalam banyak kasus, peran kaum muda amat menentukan arah kehidupan bangsanya. Seperti diulas Pareto, Mosca, atau Michel (1982), mereka (kaum muda) adalah kaum elite yang memiliki mobilitas tinggi dan peran sentral dalam menentukan opini dan keputusan mayoritas. Pada gilirannya, kaum elite itulah yang mengontrol berbagai akses atas sumber daya ekonomi dan politik negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pemuda angkatan 1908 dan 1928 berhasil memupuk bibit nasionalisme dan menggalang ideologi persatuan nasional. Lantas pemuda angkatan 45 dapat merealisasikan cita-cita besar, yaitu kemerdekaan. Angkatan 66, 74, 80, hingga 98-an hampir bisa dikatakan hanya sebatas kekuatan korektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pascatumbangnya Orde Baru dengan  lengsernya Soeharto sekaligus membuka kran demokrasi, nyaris tak ada pembaruan mendasar yang bisa dilakukan pemuda dan gerakan mahasiswa. Mengutip hasil penelitian Lembaga Survei Indonesia (2007), salah satu kendala utama dalam menuntaskan agenda reformasi adalah sulitnya mencari sosok muda tampil mengimbangi peran elite mapan produk kepemimpinan politik Orde Baru. Walaupun kejatuhan rezim Soeharto menjadi momentum bagi para mantan aktivis mahasiswa untuk memasuki dunia politik praktis. Banyak di antara mereka, terutama mantan aktivis duduk di lembaga legislatif maupun eksekutif, di level nasional maupun daerah. Namun di lembaga legislatif, tercatat bahwa pada pemilu 2004 dari 550 kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), hanya 33 orang (6%) saja dari anggota DPR yang berasal dari kaum muda. Tentunya jumlah ini tidak sebanding dengan jumlah pemuda Indonesia yang mencapai sekitar 80,7 juta orang dari total 220 juta rakyat Indonesia. Bahkan tak sedikit dari mereka yang memasuki arena kekuasaan harus mengalami disorientasi visi dan terjebak dalam arus pragmatisme politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penyebabnya adalah iklim politik yang masih kental akan warna kegiatan ekonomi ’pasar’. Dalam sebuah disertasinya, Akbar tanjung menyentil para politisi dengan mengatakan para elit politik terlalu berorientasi pada kekuasaan. Maka berkembanglah kemudian wacana tentang politik saudagar (pengusaha) atau saudagar yang berpolitik demi ambisi kekuasaan. Bukan rahasia umum bahwasannya uang (kekuatan modal) masih menjadi kebutuhan dan simbol kekuasaan. Tidak mungkin partai politik berjalan tanpa dukungan keuangan yang kuat. Arena politk baru yang dalam wujud ’pasar’ telah terbentuk yang daya penetrasinya telah memasuki wilayah politik dan para elit. Dalam buku The Rise of Capital (1986), Richard Robinson menjelaskan bagaimana pengusaha mengendalikan negara melalui arena politik. Realitas politik itu sesungguhnya adalah wajah lain dari watak kekuasaan Orde Baru yang nepotik, kolutif, dan koruptif. Ketika sikap pragmatisme para politico-business itu bersinerji dengan iklim politik pasar, maka bisa dipastikan dunia politik akan menjadi lawan dari demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya kemudian, bagaimana menjamin proses transisi politik dari generasi tua ke generasi muda tidak kembali terjebak pada model regenerasi elitis, pragmatis, subjektif, dan fragmentatif? Pertama, kaum muda harus berani merombak watak budaya politik "banalisme" yang menjadikan kekuasaan dan uang sebagai tujuan. Kedua, memperkuat komitmen penegakan hukum dan memfungsikan partai politik dan badan legislatif sebagai arena perjuangan kepentingan rakyat. Ketiga, mendorong birokrasi yang bersih, profesional, dan berorientasi pada pelayanan (good corporate governance). Keempat, mengefektifkan struktur kekuasaan yang mampu menjamin bekerjanya fungsi check and balance di antara lembaga-lembaga negara. Kelima, menumbuhkan etika dan etos berbisnis yang sehat, agar para entrepreneur yang menjadi pejabat publik tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat baru bagi proses "akumulasi kapital". Ke depan, kiprah pemuda berlatar aktivis-intelektual-entrepreneur akan makin banyak masuk dalam kekuasaan. Kekhawatiran atas kiprah mereka amat wajar, mengingat iklim perselingkuhan "uang dan kekuasaan" yang dilakoni jenis elite "penguasa-pengusaha" itu kini tengah mendominasi wacana dan praktik politik mutakhir di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, semoga rangkaian sejarah kaum muda bisa meneguhkan kembali sikap patriotik kita semua. Ditengah kenyataan bangsa yang sedang dikepung masalah. Apalagi dengan perilaku yang dipertontonkan oleh para elit dan pejabat kita. Jika dulu orang berlomba-lomba rela dan berani berkorban demi bangsa dan tanah air, kini justru para elit politik dan pejabat berlomba mengorbankan bangsa dan tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;http://www.els.bappenas.go.id/&lt;br /&gt;http://www.suaramerdeka.com/&lt;/div&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8209335490193108219-3888880123516454495?l=jambualas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/3888880123516454495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8209335490193108219&amp;postID=3888880123516454495' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/3888880123516454495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/3888880123516454495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/2008/06/kaum-muda-dari-masa-ke-masa.html' title='Kaum Muda; Dari Masa ke Masa'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8209335490193108219.post-71367820685500787</id><published>2008-06-18T12:51:00.002+07:00</published><updated>2008-06-18T12:53:13.656+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWASAN'/><title type='text'>KEBEBASAN MENGKRITIK DAN KEBEBASAN PRIBADI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pada dasarnya, seluruh masyarakat Islam seperti tubuh yang satu, sebagaimana firman Allah, ”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (At-taubah:71) &lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; Dalam berbagai hadits dijelaskan, bahwa diberi hak bagi setiap orang untuk mengkritik pemerintah dan memberikan masukan. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri, dia berkata, ”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa yang melihat kemungkaran di antara kalian maka hendaklah dia mengubah dengan tangannya, jika ia tidak bisa maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak bisa maka ubahlah dengan hatinya, hal yang demikian merupakan selemah-lemahnya iman”(HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perundang-undangan Islam memberikan kaum muslimin kebebasan berpolitik, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk selama ia bermaksiat kepada sang Khalik, meskipun ia seorang penguasa atau pemimpin. Hal tersebut diperjelas oleh sikap para Khulafa’ur rasyidin dalam bahasan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan, bahwa Umar bin Abdul Aziz ketika memangku kekhalifahan, mengembalikan segala sesuatu sesuai dengan kadarnya. Ia mengumumkan dimulainya kebebasan berpolitik, dan mendorong terciptanya semangat menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Islam bukanlah agama yang rela melihat terjadinya kemungkaran. Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz berkhutbah di hadapan masyarakat banyak, dia berkata, ”Ingatlah! Tidak ada keselamatan bagi orang yang menentang sunnah, dan tidak ada ketaatan atas makhluk yang bermaksiat kepada Allah. Ingatlah, bahwa kalian akan menyebut pemimpin yang lari dari kezhaliman sebagai pemimpin yang melakukan kemaksiatan, dan ingatlah yang pertama kali melakukan diantara keduanya adalah pemimpin yang zhalim ”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang adil pun rela turun dari kekhalifahannya setelah mengumumkan awal jabatannya sebagai khalifah, dan meminta kepada para imam untuk memilih khalifah penggantinya. Namun para ulama memilihnya dan seluruh umat membai’atnya. Maka ia pun memberikan kebebasan untuk berpendapat dan berekspresi, ia memberikan hak setiap orang yang terzhalimi untuk mengadukannya, dan orang-orang yang bebas untuk berbicara dan melontarkan pendapat..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan, bahwa Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar As-Shiddiq, salah seorang cucu Abu Bakar Ra yang wafat pada tahun 112 H berkata, ”Sekarang ini orang yang tidak bisa berbicara pun mampu berbicara!”. Inilah gambaran singkat sebuah kisah yang sangat fenomenal sebagai salah satu bukti kebebasan yang ada pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan mengkritik dan berekspresi, membentuk masyarakat untuk terus berkembang, maju dan kreatif, serta mampu menghilangkan penyakit mencari muka dan kedudukan, yang merupakan penyakit yang sangat berbahaya dan melemahkan pundi-pundi suatu masyarakat dan terus menggerogoti dan menjerumuskan mereka pada kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menghormati, menjunjung, dan memberikan jaminan atas kebebasan pribadi, termasuk kebebasan untuk berpindah-pindah. Seseorang berhak untuk pindah dari satu tempat ke tempat lainyya dan keluar atau masuk tanpa ada ikatan apa pun, kecuali jika ada kepentingan negara untuk melarangnya. Seperti larangan berpergian baik keluar atau masuk ketika menyebarnya wabah. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Saw, ”Jika kalian (mendengar adanya) wabah di suatu tempat, janganlah kalian mendatanginya dan jika terjadi sesuatu (wabah) di suatu tempat dan kalian berada di dalamnya janganlah kalian keluar untuk lari darinya” (HR. Al-Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara kebebasan pribadi yang dilindungi oleh Islam bagi setiap orang di dalam suatu negara adalah hak untuk hidup aman. Maka menurut pandangan syariat Islam, seseorang tidak boleh untuk ditahan kecuali jika ia melakukan tindak kejahatan yang harus dijatuhkan sanksi, karena pada dasarnya seseorang terbebas dari segala dakwaan hingga ada bukti yang memvonis kejahatan tersebut. Oleh karena itu, Islam menjamin privasi tempat tinggal seseorang, dilarang bagi seseorang memasukinya dengan paksa tanpa ada izin kecuali dalam kondisi darurat, sebagaimana firman Allah Swt, ” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat” (An-Nur: 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;Fikih Kemenangan dan Kejayaan. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8209335490193108219-71367820685500787?l=jambualas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jambualas.blogspot.com/feeds/71367820685500787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8209335490193108219&amp;postID=71367820685500787' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/71367820685500787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8209335490193108219/posts/default/71367820685500787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jambualas.blogspot.com/2008/06/kebebasan-mengkritik-dan-kebebasan.html' title='KEBEBASAN MENGKRITIK DAN KEBEBASAN PRIBADI'/><author><name>znabiha</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
